Menguak Motif Penyebaran Hoax

Beberapa bulan sebelum masa pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS), media sosial dibanjiri dengan berbagai berita palsu (hoax). Setelah Pilpres AS usai, baru diketahui berbagai pihak yang membuat berita palsu itu. Penghasilannya pun mencapai miliaran rupiah. Kebanyakan pembuat konten untuk situs berita palsu tersebut datang dari kalangan remaja. Salah satunya adalah Victor, seorang remaja laki-laki berumur 16 tahun dari Veles, sebuah kota kecil di Makedonia.

Menurut penelusuran yang dilakukan media Channel 4, Victor dan ratusan remaja lainnya berperan sebagai editor yang berisikan berbagai berita palsu. Viktor sendiri bekerja di situs Total News.

Berdasarkan keterangan dari penduduk lokal Veles, beberapa pembuat berita, terutama dari kalangan milenial, bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar. Tidak disebutkan dari mana sumber uang tersebut. Yang pasti, satu orang bisa meraup uang tunai sebesar 200.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,6 miliar dari pekerjaan ini.

Victor sendiri menceritakan bahwa berita-berita palsu pro-Trump begitu diburu di internet. “Mereka (pembaca) mau mendengar berita tentang Donald Trump,” begitu kata Victor, sebagaimana KompasTekno rangkum dari DailyMail, Senin (28/11/2016).

Ratusan Remaja Menyebarkan Hoax Untuk Rekreasi

Victor mengatakan bahwa dengan menyebarkan berita hoax di internet, ia dapat mendapatkan uang yang melimpah dan memupuskan kebosanannya.

“Untuk uang, untuk rekreasi. Tidak banyak yang bisa dilakukan di sini (Veles),” tutur Victor.

“Banyak anak-anak tidak keluar (rumah), kami melakukannya karena bosan,” imbuhnya.

Uniknya, Victor merasa bersalah karena banyak warga AS yang percaya terhadap berita bikinannya. Namun, Victor mengaku akan terus melanjutkan “pekerjaan” tersebut.

Berita-berita palsu memang begitu banyak beredar di media sosial, terutama di Facebook, belakangan ini. Maraknya berita tersebut dituding sebagai penyebab kemenangan Trump di pemilihan Presiden AS. Mengetahui hal tersebut, Mark Zuckerberg, pendiri sekaligus CEO Facebook, berjanji untuk menghadang berbagai berita palsu beredar di jejaring sosial bikinannya.

Penyebar Hoax Diancam Hukuman 6 Tahun Penjara

Kepolisian Republik Indonesia pun bereaksi terhadap maraknya penyebaran isu atau berita bohong melalui media sosial. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Komisaris Besar Rikwanto menjelaskan, pelaku penyebar hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.”

“Bagi Anda yang suka mengirimkan kabar bohong (hoax), atau bahkan cuma sekadar iseng mendistribusikan (forward), harap berhati-hati. Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar,” kata Rikwanto

Dia meminta masyarakat jika mendapat pesan berantai yang hoax, agar tak sembarang menyebarkannya. “Laporkan saja kepada polisi,” ujarnya. Pesan hoax, kata Rikwanto, harus dilaporkan ke pihak berwajib karena sudah masuk delik hukum.

“Setelah laporan diproses oleh pihak kepolisian, baru kemudian polisi bisa melakukan penyidikan dengan bekerja sama bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan segenap operator telekomunikasi,” kata Rikwanto

Posting Mengungkap Motif di balik Penyebaran Hoax (part 2) ditampilkan lebih awal di Bunderan Damai.

Artikel ini dipersembahkan oleh : www.bunderan.dutadamai.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*